Di lantai paling atas Akademi Astra, sekolah magis yang tersembunyi di balik kabut Pegunungan Halimun, ada sebuah atap tua yang tak pernah dikunjungi murid lain. Tempat itu jadi markas rahasia bagi tiga sahabat: Rian, pemuda yang sihir apinya sering meletup tanpa kendali; Nala, murid jenius yang mahir meracik ramuan tapi pemalu; dan Arka, satu-satunya murid non-sihir yang lolos seleksi karena kecerdasan mekaniknya.
Sore itu, saat langit berubah keunguan, Arka tak sengaja menginjak ubin kayu yang longgar di pojok atap. Di bawahnya, terselip sebuah amplop kusam berselip pita perak yang berkilau redup.
"Lihat ini," bisik Arka sambil mengangkat surat itu.
Nala mendekat, mengamati segel lilin bertuliskan lambang Bintang Tiga Segi. "Ini... segel pendiri akademi seratus tahun lalu. Tapi kenapa disimpan di atap biasa begini?"
Rian yang penasaran langsung menyentuh segel itu. Kehangatan sihir apinya memicu mantra pelindung surat, hingga lipatannya terbuka sendiri dan memancarkan tulisan berwarna emas di udara:
"Untuk siapa pun yang menemukan surat ini bersama teman-temannya: Kerajaan Astra sedang meredup karena Batu Teras yang menjaga sekolah ini telah retak. Sihir sejati tidak lahir dari bakat individu, melainkan dari ikatan. Carilah Inti Rembulan di Dasar Danau Cermin sebelum gerhana esok malam, atau akademi ini akan runtuh selamanya."
Ketiganya saling pandang. Mereka hanyalah murid-murid yang sering dianggap paling tidak menonjol di angkatannya. Rian selalu membuat kekacauan, Nala terlalu takut bersuara di kelas, dan Arka sering dipandang sebelah mata karena tak punya sihir. Tapi melihat pesan itu, mereka tahu tidak ada waktu untuk ragu.
Malam itu juga, mereka menyelinap ke Danau Cermin di balik hutan sekolah. Di sana, mereka menghadapi penjaga danau—seekor monster air raksasa berwujud bayangan.
Rian sempat panik karena sihir apinya padam terkena cipratan air. "Aku tidak bisa! Sihirku cuma bikin makin kacau!" teriaknya.
"Jangan lawan airnya, Rian!" panggil Arka sambil merakit alat pelempar jaring buatannya dari bahan mekanik. "Gunakan apimu untuk memanaskan alatku! Nala, lemparkan ramuan pembeku ke arah kakinya!"
Nala menelan ludah, menahan gemetar, lalu melemparkan botol ramuannya dengan presisi tinggi. Kaki monster itu membeku seketika. Rian, melihat keberanian teman-temannya, mengalirkan hawa panas apinya ke alat Arka, meluncurkan jaring besi berenergi panas ya